Sundul
Come On ...

Forum 17++ (Adults)
Lets Join And Find it !!!

Bercinta dengan mantan kekasih

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Bercinta dengan mantan kekasih

Post by Admin on Fri Mar 11, 2011 11:36 am

Cerita Dewasa kali menceritakan kisah cinta yang terulang kembali dalam pelukan mantan kekasih, cerita dewasa ini sangat bagus dan mengugah mari kita nikmati ceritanya Nita Puspitasari, 30 tahun, adalah seorang wanita cantik dengan kehidupan yang tergolong baik. Dari segi fisik, tak ada satu laki-laki pun yang mampu menolak untuk mengatakan kalau ia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang sempurna. Dengan karier yang tengah menanjak sebagai seorang dosen, serta beberapa jabatan lain yang diembannya membuat rekan-rekan seprofesinya tak segan untuk menaruh kekaguman. Keaktifan Nita di beberapa organisasi sosial pun cukup membuat namanya dikenal oleh berbagai kalangan dan golongan. Selain itu rumah tangga yang terlihat harmonis dengan suami yang berprofesi sebagai seorang pengacara, seakan menambah kesan luar biasa dari semuanya yang sudah terlihat luas biasa.

Namun jauh dari semua hal itu, orang-orang dekat Nita sama sekali tidak bisa melihat kegalauan yang mendera hatinya saat ini. Sebagai seorang wanita, Nita telah memiliki segalanya. Namun seperti kata pepatah kalau tak ada gading yang tak retak, maka kehidupan sempurna Nita pun tak lepas dari adanya kekurangan. Selama hampir tiga tahun pernikahan Nita, ia tidak juga dikaruniai seorang anak. Masalah ini ibarat duri dalam daging dalam kehidupan rumah tangga wanita cantik tersebut. Di luar mungkin mereka mungkin terlihat seperti sepasang suami istri yang harmonis dan penuh kehangatan, namun di dalam hubungan Nita dan suaminya terasa begitu dingin. Baik suami maupun mertuanya, menganggap Nita tidak mampu memberikan keturunan sehingga tidak layak disebut sebagai istri yang baik.

Masalah ini pun akhirnya membuat Nita menggoreskan sebuah cacatan hitam di dalam salah lembar kehidupannya yang sempurna. Tak ada seorang pun akan menyangka kalau istri setia seperti Nita akan melakukan perselingkuhan, bahkan tidak juga dirinya sendiri. Tetapi itu terjadi, dan semuanya diawali di hari itu …

“Terima kasih atas kedatangannya Ibu Nita, suatu kehormatan Ibu bisa datang dan bersedia berbagi ilmu dengan kami”, seorang laki-laki paruh baya menghampiri Nita dan menyalami tangannya.

“Terima kasih juga Pak Bimo, ini juga merupakan suatu kehormatan untuk saya”.

Nita saat ini memang ditunjuk oleh Universitas tempatnya bekerja sebagai pembicara sekaligus panitia di sebuah acara diklat dan pelatihan untuk guru dan dosen. Segala persiapan dan pelaksanaan diklat ini membuat Nita harus meninggalkan rumah untuk beberapa hari. Beruntung pihak sponsor bersedia menggung segala akomodasi dan transportasi yang diperlukan olehnya.

“O ya, mari saya perkenalkan siapa yang akan menjadi moderator kita selama pelaksanaan diklat ini”, laki-laki yang dipanggil Nita dengan sebutan Pak Bimo tersebut adalah ketua panita kegiatan diklat ini. Pak Bimo kemudian mengajak Nita untuk mendekati seorang laki-laki yang kini nampak sedang asyik mengobrol dengan beberapa orang.

“Permisi Bapak-bapak, maaf mengganggu, saya ingin mengenalkan moderator kita ini dulu dengan salah satu pembicara dalam kegiatan diklat hari ini”.

Pak Bimo lalu menarik seorang laki-laki keluar dari kerumunan orang-orang dan mengajaknya mendekati Nita. “Ini lo Pak Dendy, pembicara kita”.

“Lo, kamu Nita kan?”.

“Dendy?”.

Melihat sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya, pikiran wanita cantik itu langsung ber-flash back beberapa tahun ke belakang menuju masa-masa dimana ia masih duduk di bangku kuliah. Laki-laki tegap yang kini berdiri di hadapannya memang benar adalah Dendy, mantan kekasihnya. Umur mereka hanya berselisih satu tahun. Nita ingat betul masa-masa itu karena bersama Dendy adalah salah satu masa-masa terindah dalam hidupnya. Tidak ada hal-hal yang buruk yang perlu dikenangnya selama 2 tahun kebersamaan mereka. Hal yang paling buruk yang bisa diingat Nita adalah saat mereka harus mengakhiri hubungannya dengan Dendy karena tidak adanya persetujuan dari pihak keluarga mereka berdua. Jangan tanyakan alasannya, karena permasalahannya sedikit sensitif dan mengandung unsur sara.

“Lo kalian sudah saling mengenal?”, Pak Bimo cukup heran melihatnya.

“Iya Pak, kami sudah saling mengenal sejak kuliah dulu, kami dulu “sahabat” yang cukup dekat”.

Nita hanya tersipu malu mendengar kata-kata Dendy. Wajahnya nampak memerah.

“Oh, bagus kalau begitu artinya kalian bisa lebih kompak bekerja sama dalam kegiatan ini”.

“Ya saya rasa begitu”, lanjut Dendy sambil menyunggingkan senyum.

“Baiklah, kalau begitu saya akan meninggalkan kalian untuk saling bercakap-cakap”, laki-laki tua itu lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.

“Apa kabar Nit?”.

“Baik, kamu sendiri gimana?”.

“Ya gini deh, bisa kamu liat sendiri, by the way kamu tambah cantik aja hehehe…”.

“Ah, bisa aja”.

“Kamu udah nikah Nit?”.

“Udah”.

Terlihat sedikit ekspresi kekecewaan di wajah laki-laki tersebut.

“Wao, who’s the lucky guy?”, Dendy berusaha untuk tetap tersenyum.

“Ntar aku kenalin deh”.

“Oh, suami kamu ikut?”.

“Nggak sih, maksud aku nanti aku kenalin kalo kamu main ke kotaku”.

Keduanya lalu kembali membisu untuk beberapa saat.

“Kamu sendiri udah nikah?”, tanya Nita.

“Aku sih belum nih, belum laku-laku juga hahaha…”.

Pikiran Nita kembali melayang ke masa lalu. Sosok Dendy yang dilihatnya kini adalah seorang laki-laki dewasa yang nampak berwibawa dan gagah. Apalagi ditambah dengan balutan stelan jas hitam yang dikenakannya sekarang. Berbeda sekali dengan Dendy yang dikenalnya dulu, yang lebih bersifat cuek dan selengekan seperti seorang mahasiswa pada umumnya. Jelas sekali di mata Nita terpancar kekaguman terhadap sosok baru mantan kekasihnya ini.

“Kok malah bengong?”.

“Oh, kenapa ndy?”, Nita agak tersentak karena merasakan tepukan di pundaknya.

“Aku tadi nanya, kamu udah punya anak?”.

“O, belum ada nih”.

“Emang ada rencana untuk menunda punya anak dulu?”.

“Nggak sih, cuma belum dikasi ama yang diatas aja kali”.

Ketika mereka berdua masih bercakap-cakap, Pak Bimo kembali mendekati mereka.

“Maaf ini mengganggu, tapi acara kita akan segera di mulai jadi Ibu Nita dan Bapak Dendy silakan menuju meja masing-masing”.

“Silakan Nit”, Dendy menunjukkan sikap gentlement-nya.

“Terima kasih”.

Mereka bertiga lalu berjalan menuju meja pembicara sekaligus tempat moderator untuk bergabung dengan dengan pembicara lainnya. Tak lama Pak Bimo sudah terlihat memberikan sambutan sambil sekaligus membuka acara diklat dan pelatihan tersebut bersama dengan perwakilan dari pihak sponsor. Kegiatan itu pun terlihat berjalan lancar sepanjang hari tersebut.

“Nanti malam kamu ada acara Nit?”, Dendy mendekati Nita selepas acara diklat hari pertama tersebut ditutup.

“Kalo aku sih tergantung panitia saja, tapi terakhir sih mereka bilang malam ini nggak ada acara tambahan lagi, memang kenapa?”.

“Malam nanti kebetulan ada rekan bisnis mengundang aku ke acara syukurannya, karena aku tidak ada pasangan di kota ini jadi mungkin aku bisa mengajak kamu, bagaimana? Kamu mau?”.

“Hhhmmm…”, Nita sedikit mengerutkan keningnya. Memang malam nanti ia tidak memiliki acara. Rencananya malam ini ia ingin beristirahat saja karena baru pagi tadi mendarat di kota ini, dan langsung menuju lokasi acara. Namun setelah dipikirkannya kembali ia merada tidak ada salahnya kalau ia menemani Dendy sambil iseng-iseng menambah relasi baru.

“Oke, aku mau”.

Dendy langsung terlihat mengembangkan senyum. “Baiklah, kalo begitu nanti aku jemput sekitar jam 6 sore, bagaimana?”.

“Nggak masalah”.

“Oke, kalo begitu sampai jumpa nanti malem”.

“Oya ndy, ada ndyss code?”, potong Nita ketika Dendy hendak beranjak pergi.

“Upss… hampir lupa, formal ndyss, kamu ada gaun?”.

“Waduh nggak ada nih, gimana dong?”.

“Tenang aja, soal itu biar aku yang urus, oke?”.

“Kamu mau minjem ama siapa?”.

“Pokoknya nggak usah dipikirin, serahin aja semuanya ama aku”. Laki-laki itu lalu mengeluarkan ponselnya. “Oya, berapa nomor HP-mu?”.

Mereka lalu saling tukar nomor ponsel masing-masing.

“Kamu menginap di hotel *** sama seperti yang lain kan?”.

“Iya, kamu sendiri?”.

“Aku sih menginap di rumah saudara di daerah ***”.

“Oh, jauh juga ya?”.

“Habis nggak suka nginep di hotel, oya sampai jumpa sore nanti, sory nih buru-buru habis aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu, bye…”.

Tanpa menunggu jawaban dari Nita, Dendy langsung beranjak dari sisi wanita cantik tersebut dan meninggalkannya dalam kebingungan.

Nita baru saja terbangun dari tidurnya. Ia lalu melihat ke arah jam tangannya. Rupanya ia hanya bisa terlelap selama satu jam saja, selepas kedatangannya di hotel ini. Ekspresi kelelahan masih terpancar di wajah cantik Nita. Wanita cantik itu nampak menghela nafas panjang sambil merenggangkan tubuhnya, berusaha menghilangkan rasa pegal dan penat akibat jet leg sepanjang perjalanan pagi tadi. Setelah itu lalu Nita mengeluarkan ponselnya dari dalam tas jinjingnya.

Melihat layar ponselnya, kembali Nita harus menghela nafas panjang. Sama sekali tidak ada telepon ataupun SMS yang masuk dari suaminya. Sebenarnya Wawan adalah suami yang baik dan bertanggungjawab, namun beberapa bulan ini sikap suaminya yang cuek dan dingin terkadang membuat Nita tersiksa. Sifat cuek dan dingin inipun terbawa sampai ke urusan ranjang. Hampir beberapa bulan ini, jari-jari tangan Nita seakan tidak akan habis untuk menghitung berapa kali ia mencapai orgasme ketika mereka bercinta. Memang suaminya memberikan jatah batin, namun semuanya terasa begitu hambar. Mungkin hal ini diakibatkan oleh masalah mereka yang belum juga dikarunia momongan. Namun Nita tetap berusaha menjalani kehidupan pernikahan mereka, sambil berharap suatu saat keadaan ini akan segera berubah.

Nita pun kemudian beranjak dari atas ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Mungkin berendam dengan air panas adalah cara yang paling efektif saat ini untuk menghilangkan penat dan kegalauan hatinya. Di dalam kamar mandi Nita menghidupkan keran, mengisi penuh bathtub dengan air hangat dan menuangkan sabun busa ke dalamnya. Tak lama Nita nampak keluar dari dalam kamar mandi guna mengambil kimono putih yang sekaligus berfungsi sebagai jubah mandi yang tergantung di dalam lemari. Kini make up yang menempel di wajah Nita sudah menghilang. Namun justru dengan begitu kecantikan Nita jauh lebih terlihat alami. Hal ini memang tidak mengherankan karena sewaktu remaja dulu ia kerap disebut sebagai bunga kampus.

Ketika hendak melepaskan kemeja yang dikenakannya dan beranjak kembali masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba Nita mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Nita pun kembali mengancingkan tiga kancing kemejanya yang sebelumnya tadi sempat terlepas.

“Permisi Ibu Nita?”, kini di hadapan Nita berdiri seorang office boy muda sambil membawa sebuah box besar.

“Iya saya sendiri”.

“Maaf Ibu, saya di minta untuk mengantar bingkisan ini buat Ibu”.

“Dari siapa ya?”, Nita dengan sedikitt ragu menerima bungkusan berbentuk kotak itu yang disodorkan oleh si office boy.

“Katanya sih sudah ada nama pengirimnya di dalam kotak”.

“Oke deh, kalo gitu saya terima saja dulu”.

“Iya Bu, kalo gitu saya permisi dulu”.

“Oya, tunggu sebentar”, Nita kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. Ia lalu kembali mendekati laki-laki muda tersebut di depan pintu. “Ini buat kamu”.

“Terima kasih Bu”.

Setelah menutup pintu kamarnya, Nita memperhatikan kembali kotak bingkisan yang dipegangnya. Ia pun lalu memilih untuk membuka saja bingkisan tersebut guna menghilangkan rasa penasarannya. Setelah membuka kotak kertas yang terbungkus di dalamnya, Nita benar-benar terkejut karena melihat sebuah gaun malam sutra berwarna putih terdapat di dalamnya. Gaun itu terlihat begitu mewah, elegan dan glamour. Tentunya pasti gaun ini berharga sangat mahal, pikirnya dalam hati. Lalu Nita berusaha mencari nama pengirim sebagaimana disebutkan oleh si office boy tadi, namun ia sama sekali tidak menemukannya. Belum hilang rasa heran Nita, tiba-tiba ia mendengar ponselnya berbunyi. Segera ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.

“Halo…”.

“Hai, bagaimana? Suka dengan kirimanku?”.

“Dendy? Jadi kamu yang ngirim gaun ini ya?”.

“Iya, anggap saja sebagai hadiah perjumpaan kita kembali”.

“Tapi kayaknya ini mahal banget ndy? Aku jadi nggak enak nerimanya”.

“Nggak apa-apa kok, pokoknya kamu harus memakainya malam ini”.

“Kamu dapat dimana gaun sebagus ini?”.

“Kamu nggak perlu tau, yang jelas kamu pasti terlihat cantik dengan gaun itu”.

“Tapi ndy…”.

“Nggak ada tapi-tapian, kamu harus siap jam 6 sesuai janji kita, oke?”.

“Iya deh…”, jawab Nita sedikit ragu.

Percakapan pun berakhir. Nita kembali hanya bisa memandang kearah gaun malam yang kini tergeletak di ranjang. Saat ini dalam benak wanita cantik itu bergejolak berbagai perasaan. Perasaan senang karena mendapatkan perhatian yang sedemikian besar, sekaligus pula perasaan sedih karena perhatian seperti ini tidak ia dapatkan dari suaminya sendiri namun dari mantan kekasinya. Nita kembali melirik jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih beberapa menit.

Ia pun kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi sambil membuka kancing kemejanya kembali. Kini tubuh wanita cantik itu telah terendam sepenuhnya di dalam bathtub dalam baluran busa-busa sabun. Nita terlihat memejamkan matanya dan seolah-olah berusaha me-rileks-kan pikirannya. Terlihat tangan kanannya bermain-main di seputaran wilayah dadanya. Sesekali jari telunjuknya terlihat berputar-putar di atas kedua puting payudara. Sedangkan tangan kiri Nita sendiri terlihat sibuk pula bermain di daerah selangkangan.

“Aaah…”, Nita mendesah pelan.

Dosen cantik itu terlihat begitu menikmati self-service yang sedang dilakukannya saat ini. Dari ekspresi wajahnya, terlihat sekali kehausan yang luar biasa disana. Sebagai manusia biasa mungkin Nita bisa terus membohongi diri kalau hubungan pernikahannya saat ini baik-baik saja, namun tubuhnya sendiri tidak bisa berbohong kalau kekeringan ragawi yang sedang melanda dirinya saat ini sudah sedemikian akut. Kekeringan yang telah lama membelenggu dirinya. Kekeringan jiwa yang terasa menyiksa dan entah kapan akan berakhir.

“Oooh…!”, kini Nita melenguh sedikit panjang.

Setelah itu semua aktifitasnya tadi dihentikannya begitu saja. Entah aktifitasnya tadi mampu meredam rasa hausnya untuk sementara atau tidak? Yang jelas untuk pertanyaan ini hanya Nita sendiri yang mampu menjawabnya. Wanita cantik itu pun kini terlihat beranjak turun dari dalam bathtub.
aya sudah nampak cantik di depan meja riasnya. Gaun yang diberikan oleh Dendy pun terlihat begitu pas membalut tubuh sintal Nita. Gaun berwarna putih itu memperlihatkan setiap lekuk tubuh Nita dengan begitu jelas. Sebagai seorang istri yang belum pernah mengandung sebelumnya, tubuh Nita terlihat masih sangat terpelihara seperti ketika ia masih berstatus wanita single. Jika mungkin ada laki-laki yang tidak mengetahui status Nita saat ini, tentunya mereka tidak akan segan untuk mendekati Nita untuk sekedar mengobrol atau meminta nomor telepon.
Begitu wanita cantik itu selesai memoleskan lipstik di bibirnya, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Mungkin itu Dendy, pikir Nita. Ia pun beranjak dari kursi dan berjalan mendekati pintu. Ketika pintu dibuka maka benarlah yang berdiri di sana adalah Dendy. Laki-laki itu nampak mengenakan stelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasinya yang berwarna merah. Kembali Nita tidak bisa menutupi kekagumannya kepada sosok mantan kekasihnya ini. Entah mengapa sekujur tubuh Nita terasa berdesir melihat sosok laki-laki yang kini berdiri di depannya.

“Kamu udah siap?”, Dendy membuka percakapan, karena melihat Nita yang hanya berdiri terpaku.

“Oh sory, iya udah kok ini tinggal ngambil tas aja”, Nita terlihat kikuk begitu tersadar dari lamunannnya tadi. Dendy hanya tersenyum melihat Nita yang sedikit salah tingkah.

Lalu Nita mengambil tas jinjingnya di atas meja, memasukkan ponselnya dan bergegas menuju pintu. Dendy kembali tersenyum kecil melihat gerak tubuh Nita. Jauh di dalam hatinya ia juga mengagumi sosok mantan kekasihnya saat ini. Nita kini terlihat lebih anggun, feminim dan elegan. Jauh sekali dari kesan seorang gadis remaja yang dulu sempat dipacarinya.

“Oke, udah”.

“Kamu cantik sekali malam ini”.

“Makasi”, Nita tersipu mendengar pujian dari Dendy.

“Bagaimana gaun yang aku belikan? Pas kan ukurannya?”.

“Iya, kok kamu bisa tahu ukuranku?”.

“Hhhmm… aku lihat kamu sama sekali tidak berubah seperti terakhir kita bertemu, dan terakhir kita bertemu aku rasa aku sudah cukup “mengenal” lekuk tubuhmu”.

Nita hanya bisa menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa malu akibat mendengar kata-kata Dendy tadi. Memang sewaktu mereka masih berpacaran dulu Dendy sudah terbiasa melihat tubuhnya, bahkan cukup “terbiasa” untuk melihat tubuhnya dalam keadaan telanjang. Tidak hanya melihat, Dendy pun sudah pernah merasakan kehangatan tubuh Nita karena laki-laki yang kini berdiri dihadapan Nita inilah adalah laki-laki yang diserahinya keperawanannya.

“Ayo…”, Dendy seakan bisa menangkap gejolak perasaan yang kini sedang melanda Nita, sehingga dengan segera ia mengajak wanita cantik itu untuk meninggalkan hotel.

Nita pun keluar segera beranjak dari depan pintu dan mengunci pintu kamarnya. Tak lama keduanya pun berjalan di koridor hotel, dimana tangan Nita merangkul tangan Dendy. Kebersamaan ini seperti sebuah dejavu masa remaja bagi mereka berdua.

Di acara resepsi tersebut banyak tamu-tamu yang hadir. Rupanya sahabat Dendy ini cukup terpandang di kalangan pejabat, sehingga yang hadir rata-rata terlihat dari kalangan atas. Tamu-tamu yang diundang pun banyak sekali. Tak ada satupun orang yang dikenal oleh Nita di acara perjamuan tersebut, sehingga wanita cantik itu pun hanya bisa berada di samping Dendy. Sesekali memang Dendy menyebutkan beberapa nama yang mungkin dikenal, namun Nita tentu tidak bisa mengingat semua nama tersebut dalam waktu singkat.

“Oh, itu sang tuan rumah, kita kesana yuk?”, Dendy menunjuk ke arah seorang laki-laki paruh baya dengan rambut yang sudah memutih

Nita hanya mengangguk.

“Wah Dendy… terima kasih atas kedatangannya”, laki-laki itu langsung menyapa Dendy, ketika mereka mendekat.

“Sama-sama Pak Bobi, selamat lo sekarang sudah punya mantu dan sebentar lagi akan segera bisa menggendong cucu”.

“Hahaha… kau bisa saja, oya ini siapa? Istrimu kah?”.

Nita kembali harus tersipu malu. Hampir semua orang yang menyapa Dendy dan tidak tahu kalau Dendy belum menikah hampir selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Sedangkan bagi mereka yang sudah tahu dengan status Dendy akan menyangka kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih. Walaupun itu pernah terjadi, namun kini mereka jelas-jelas tidak lagi memiliki ikatan apa-apa lagi selain teman. Mungkin kali ini untuk kesekian kalinya Dendy harus meralat pertanyaan tersebut.

“Bukan Pak, ini rekan bisnis saya kebetulan kami ada acara yang sama di kota ini”.

“O, aku kira ini istri kau, habis cantik benar wanita ini”.

Nita hanya tersipu mendengarnya.

“Kau ini ndy, sudah punya karier yang bagus, masa depan yang cerah, buru-burulah kau menikah! Memang apa lagi yang kau tunggu? Hahaha…”.

“Nunggu calonnya nih Pak hahaha…”.

Acara resepsi pun berakhir ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dendy dan Nita pun segera meninggalkan tempat acara bersama dengan para undangan lainnya. Sepanjang perjalanan Dendy bercerita kalau Pak Bimo adalah orang yang mengajaknya pertama kali menjalani bisnis yang sekarang digelutinya saat ini. Dendy nampak bersemangat bercerita mengenai perjalanan kariernya sebagai pengusaha. Nita hanya tersenyum di dalam hatinya, karena kebiasaan mantan kekasihnya ini sama sekali tidak berubah. Akhirnya mereka pun kembali tiba di hotel tempat Nita menginap. Keduanya kini sudah kembali berada di depan pintu kamar Nita.

“Makasi ya Nit, udah mau nemenin aku malam ini”.

“Sama-sama ndy, pesta yang meriah banget tadi”.

“Iya namanya juga pesta pejabat, ya gitu deh, semoga kamu nggak bosen tadi”.

“Nggak kok, lagian luNitan aku jadi banyak dapat kenalan baru”.

Setelah itu luNitan lama suasana menjadi sunyi. Keduanya hanya bisa saling bertatapan. Walau tanpa kata-kata, seolah-olah tatapan keduanya mampu menyiratkan isi hati mereka masing-masing.

“ndy, udah malem nih, aku mau istirahat dulu”.

“Oh iya, sory!”, giliran Dendy yang kini salah tingkah.

Nita lalu membuka pintu kamarnya.

“Nit…”.

“Iya?”, Nita membalikkan tubuhnya.

Sedetik kemudian tiba-tiba saja sebuah ciuman mendarat di bibir Nita. Wanita cantik itu begitu terkejut menerima ciuman tersebut, namun untuk sesaat di dalam otaknya sama sekali tidak terlintas usaha untuk melawan. Nita hanya bisa terdiam merima pagutan demi pagutan bibir Dendy di bibirnya, bahkan mungkin terlihat menikmatinya. Bahkan ia juga tidak melawan ketika laki-laki itu memeluk tubuhnya. Pagutan itu berlangsung dalam beberapa menit, sampai akhirnya kesadaran Nita bangkit kalau laki-laki yang mencium bibirnya saat ini sama sekali tidak berhak lagi untuk melakukannya. Nita lalu mendorong tubuh Dendy menjauh.

“ndy… hentikan!”, teriak Nita ketika mendorong tubuh Dendy.

Nita langsung membalikkan tubuhnya dan hendak masuk ke dalam kamar.

“Sory Nit, tadi aku khilaf”.

Nita tidak peduli dengan kata-kata Dendy. Wanita cantik itu merasa tangan Dendy menyentuh pundaknya, guna menahan langkahnya untuk masuk ke dalam kamar.

“Nit, maafin aku Nit!”.

Ia menepis tangan Dendy, bergegas masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan menguncinya. Nita lalu berjongkok di depan pintu dan menutup wajahnya. Tak ada lagi terdengar suara Dendy dari balik pintu. Mungkin laki-laki itu sudah pergi. Wanita cantik itu kini terlihat menangis. Menangis karena mungkin menyesal kenapa kejadian tadi bisa sampai terjadi. Nita tidak marah kepada Dendy karena melakukan hal tersebut, namun ia marah kepada dirinya sendiri karena tadi sempat menikmati ciuman Dendy di bibirnya. Apakah dirinya sebegitu hausnya akan belaian kasih sayang? Sampai-sampai beberapa detik yang lalu ia sampai sempat berpikir untuk memperolehnya dari laki-laki lain selain suaminya? Tak ada yang bisa memberi jawaban. Hanya bulir-bulir air mata dan rasa sepi di dalam hatinya yang menemani Nita sepanjang malam itu.

Keesokan harinya.

Malam itu Nita terlihat duduk di antara para tamu-tamu undangan yang lain. Malam ini adalah hari terakhir pelaksanaan diklat dan pelatihan, sekaligus malam perpisahan untuk para peserta dan panitia. Wanita cantik itu terlihat begitu mempesona dengan berbalut kemeja biru tua dan rok span pendek berwarna hitam. Walaupun Nita berusaha untuk bersikap biasa dan normal, namun jauh di dalam benaknya ia cukup khawatir apa yang harus dilakukannya apabila bertemu lagi dengan Dendy. Memang sejak kejadian kemarin malam sampai detik ini dirinya belum bertemu dengan Dendy lagi. Namun yang jelas setelah kejadian malam kemarin, Nita tahu benar kalau pastilah hubungan mereka tidak akan bisa lagi seakrab seperti sebelumnya.

Nita kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas jinjingnya. Ia men-dial nomor suaminya. Beberapa lama ia mendengar nada tunggu, namun tetap tidak ada jawaban. Ini sudah hampir yang kesekian kali ia mencoba untuk menghubungi sang suami dan ini yang kesekian kali pula ia tidak mendapatkan jawaban. Memang faktor tidak adanya anak setelah tiga tahun berkeluarga, cukup mempengaruhi hubungan Nita dengan suaminya dan kian hari kian bertambah parah. Nita sendiri sudah semakin pasrah akan hubungan rumah tangganya ini, walau ia terus berusaha untuk mempertahankannya. Mungkin dari segi materi, tidak ada yang kurang dalam kehidupan Nita. Namun dari segi batin, Nita adalah seorang wanita yang serba kekurangan.

“Bu Nita, ayo kita makan malam yang lain sudah pada mengambil makanan tuh”, seorang wanita paruh baya yang tadi duduk satu meja dengannya mengajak Nita untuk menuju meja prasmanan.

“Iya Ibu, saya nanti saja”.

“Kalau begitu saya duluan?”.

“Silakan Bu”, wanita itupun beranjak meninggalkan Nita duduk sendiri di meja tersebut.

Nita kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjingnya. Sejenak ia menghembuskan nafas panjang mencoba menenangkan rasa gundah di dalam dirinya. Begitu ia hendak beranjak dari tempat duduknya dan menuju meja makanan, sebuah sapaan terdengar dari belakang.

“Nit…”.

Nita membalikkan tubuhnya. Ia pun melihat sosok laki-laki yang hampir seharian ini memenuhi kepalanya, selain suaminya sendiri tentunya.

“Nit, aku tahu kemarin aku berbuat kurang ajar padamu, aku benar-benar menyesal…”.

Wanita cantik itu hanya terdiam.

“Aku benar-benar ingin meminta maaf atas kejadian kemarin, tolong maafkan aku Nit, tolong banget…”.

“Nggak apa-apa kok ndy, aku udah maafin kamu kok”, ucap Nita pelan.

“Bener?”.

Nita hanya mengangguk.

“Makasi Nit, makasi banget!”.

Dendy nampak kikuk di depan Nita. Nita sendiri juga terlihat salah tingkah. Mereka berdua nampak bingung harus mengucapkan apalagi sebagai lanjutan percakapan mereka ini.

“Kamu udah makan?”, setelah beberapa detik berada dalam kebisuan, tiba-tiba saja keduanya berucap berbarengan di waktu yang sama.

Keduanya lalu tertawa kecil atas kejadian yang tidak direncanakan tersebut.

“Kamu belum makan juga?”.

Nita hanya menggeleng pelan.

“Kalau gitu makan yuk!”, ajak Dendy.

“Yuk!”.

Mereka berdua lalu beranjak menuju meja prasmanan, kemudian duduk bersama rekan-rekan panitia yang lainnya. Bersama yang lain, keduanya pun terlihat asyik bercengkrama seperti tidak ada permasalahan yang pernah terjadi sebelumnya. Akhirnya acara perpisahan itu ditutup dengan penampilan sebuah grup band lokal sebagai bintang tamu. Para peserta pelatihan pun kemudian satu persatu meninggalkan tempat acara untuk beristirahat di hotel mereka masing-masing dan mempersiapkan kepulangan keesokan harinya. Begitu pula dengan Nita yang juga hendak pergi meninggalkan tempat tersebut. Ketika Nita selesai mengatakan kepada Dendy akan kembali ke hotel bersama dengan rombongannya, tiba-tiba Pak Bimo muncul dihadapan mereka.

“Ibu Nita…”.

“Oh Pak Bimo, ada apa Pak?”.

“Ibu Nita dan Pak Dendy bisa tinggal sebentar? Soalnya pihak sponsor minta supaya seluruh panitia diklat bisa berkumpul terlebih dahulu untuk melaksanakan rapat evaluasi”.

“Tapi Pak, rombongan saya sudah pada mau balik ke hotel, kalau musti tinggal disini nanti saya balik sama siapa dong?”.

“O begitu ya? Ya kalau begitu Ibu Nita tidak apa-apa kok tidak ikut rapat evaluasi, nanti saya yang bilang ke pihak sponsor”.

“Udah Nit, ntar biar aku aja yang nganter kamu”.

“Nggak usah ndy, aku nggak enak ngerepotin kamu lagi, jarak hotelku ama tempatmu menginap kan jauh”, Nita berusaha menolak, karena mengingat kejadian kemarin wanita cantik itu cukup ragu juga kalau harus berduaan lagi dengan mantan kekasihnya ini.

“Nggak apa-apa kok!”.

“Tapi ndy…”.

“Udah Pak Bimo, saya dengan Nita bisa kok ikut rapat evaluasi”, Dendy langsung memutus kata-kata Nita.

“Baguslah kalau begitu, rapat sebentar lagi akan dimulai di ruangan sebelah, saya tunggu Pak Dendy dan Ibu Nita disana”, Pak Bimo pun beranjak meninggalkan mereka berdua.

“Aduh ndy, aku jadi ngerepotin nih”.

“Nggak apa-apa kok!”.

“Kalau gitu, aku mau bilang ama temen-temen yang lain dulu biar nggak usah nunggu aku”.

“Ayo bareng aja, toh kita juga bakal pindah ruangan kan?”.

Keduanya lalu beranjak dari meja tersebut. Sebelum mereka menuju ke ruangan tempat rapat evaluasi dilaksanakan, Dendy mengikuti Nita menuju seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu keluar. Nita nampak bercakap-cakap dengan wanita paruh baya tersebut. Setelah beberapa lama, wanita paruh baya itu pun keluar ruangan. Sedangkan Nita dan Dendy berjalan menuju ruangan sebelah.

********

“Kapan kamu balik Nit?”.

“Kalau tidak ada halangan sih mungkin besok, sebelum jam 10 aku dan rombongan musti sudah ada di bandara, kalau kamu?”.

“Aku mungkin agak sore, dapet tiketnya jam-jam sore sih”.

Keduanya kini berada di dalam lift menuju ke kamar Nita. Sebenarnya Nita tadinya menyuruh Dendy untuk langsung balik karena mengingat hari sudah larut malam, namun Dendy memaksa untuk mengantarnya sampai di depan kamar. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Keduanya kini terlihat membisu dan hanya bisa berdiri mematung memandangi angka lift terus berganti.

“Ting!”, lift pun berhenti di lantai 3. Keduanya lalu keluar dan berjalan pelan menuju sebuah kamar.

“Makasi ya ndy, sekali lagi aku minta maaf kalau jadi merepotkan kamu”.

“Udah jangan dipikirin”.

“Aku masuk dulu ya”, Nita melihat ekspresi wajah Dendy yang terlihat sedih dengan perpisahan ini. Namun Nita berusaha tidak terlarut dalam suasana melankolis ini. “Sampai jumpa lagi deh kapan-kapan”.

Dendy hanya mengangguk pelan. Nita lalu mengambil kunci dari dalam tas jinjingnya dan membuka pintu kamarnya. Sebelum ia masuk ke dalam kamar, sekali lagi wanita cantik itu memandang ke arah wajah mantan kekasihnya tersebut. “Met malem!”.

“Nit…”, Dendy berucap pelan.

“Iya?”.

“Maaf kalau aku lancang, tapi sebelum aku pergi bolehkah aku memelukmu?”.

Nita tidak tahu harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan Dendy. Ia hanya menundukkan kepalanya dan berdiri mematung. Melihat Nita yang tidak memberi respon, berlahan Dendy mendekati wanita cantik tersebut dan kemudian memeluk tubuhnya. Nita terlihat memejamkan matanya dan membiarkan saja Dendy memeluk tubuhnya erat. Pelukan Dendy terasa begitu hangat, malah lebih hangat daripada ketika mereka masih bersama. Lama sekali Nita tidak lagi merasakan pelukan sehangat ini dari seorang laki-laki, bahkan tidak dari suaminya sendiri. Maka dari itulah ia terlihat begitu pasrah berada dalam pelukan laki-laki tersebut. Aroma tubuh Dendy malam itu benar-benar menghayutkan Nita.

Merasa tidak mendapatkan penolakan dari Nita, Dendy kemudian memberanikan diri untuk kembali mendaratkan ciuman di bibir mantan kekasihnya tersebut. Sedetik kemudian keduanya sudah nampak saling berpagutan. Kali ini Nita tidak mampu lagi menolak dorongan rasa “haus” dalam dirinya. Nita merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya ketika mereka saling melumat bibir masing-masing. Ketika Dendy mendorong pelan tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar pun Nita sama sekali tidak menolak. Bahkan begitu Dendy menutup pintu sambil terus berciuman, pagutan keduanya justru terlihat semakin panas.

“Aah…”, Nita mendesah pelan ketika lidah Dendy menyeruak masuk ke dalam mulutnya. Nafas keduanya terdengar menderu kencang menandakan betapa panas api birahi yang kini melanda mereka.

Sambil tetap saling memainkan lidah. Tangan Dendy bergerak lincah membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Nita. Begitu pula dengan Nita yang terlihat begitu tergesa-gesa membuka kancing kemeja Dendy. Keduanya seakan-akan ingin segera melepaskan semua pakaian yang menghalangi tubuh mereka untuk menyatu. Kemeja keduanya kini telah terlempar entah kemana. Demikian pun dengan sepatu, kaos kaki dan sandal high heel milik Nita juga telah tergelak tak beraturan di lantai. Bra warna hitam yang semula melindungi dada Nita kini nampak tersangkut di meja rias, begitu pula dengan kaos dalam Dendy juga telah tergeletak di pojok kamar. Sehingga kini tubuh atas keduanya telah benar-benar polos.

Dendy mendorong tubuh Nita sampai akhirnya tubuh sintal itu terbaring di atas ranjang. Dengan segera laki-laki itu menindih tubuh Nita dan kembali menghujaninya dengan ciuman dan pagutan. Payudara montok Nita yang memang sudah tidak terlindungi pun juga tak lepas dari serangan remasan tangan Dendy. Laki-laki itu merasakan payudara milik mantan kekasihnya itu terasa lebih kenyal dan padat dibanding terakhir kali ia menikmatinya.

“Ooohh… ndy…”, Nita kembali mendesah ketika mantan kekasihnya itu mengulum puting kanannya sambil meremas-remas payudara kirinya.

“Sruuup… sruuup…”, beberapa kali terdengar suara jilatan dan cupangan Dendy di permukaan bukit padat dan kenyal tersebut.

Masih sibuk menciumi payudara mantan kekasihnya itu, tangan Dendy sudah berada di dalam rok span yang dikenakan Nita. Permukaan jari-jarinya merasakan sesuatu yang licin dan lembut disana. Dendy bisa merasakan celana dalam berbahan nylon itu sudah mulai terasa basah oleh cairan kewanitaan. Tangan Nita pun nampak tidak mau kalah. Jari-jari lentik itu kini terlihat sibuk merabai dan meremasi sesuatu yang menonjol di balik celana yang dikenakan Dendy. Nita tahu benar kalau sesuatu yang padat itu pasti bisa memuaskannya malam ini, seperti yang sebelum-sebelumnya pernah dilakukannya ketika mereka masih berpacaran.

Ciuman Dendy kini turun menuju perut dan terus turun menuju kedua paha mulus Nita. Laki-laki itu lalu berjongkok, membuka kaitan rok Nita dan segera melepaskannya. Nita sedikit mengangkat pantatnya ketika Dendy hendak membuka celana dalam nylon berwarna hitam yang dikenakannya. Begitu kain mungil itu terlepas dan terlempar entah kemana, praktis kini seluruh tubuh Nita sudah terekspos dengan jelas di hadapan Dendy. Laki-laki itu menelan ludah melihat tubuh ranum Nita. Walaupun ini bukanlah pertama kali Dendy melihat tubuh telanjang Nita, namun setelah setelah sekian lama tidak berjumpa tentunya pemandangan indah ini terasa menjadi semakin indah. Kembali Dendy menindih tubuh Nita kemudian berbisik pelan di telinga gadis cantik tersebut.

“You’re so hot Nit, just like the old days”.

“Aaaah…”, Nita hanya bisa mendesah ketika Dendy mulai menjilati telinganya dan berikut menyusul ciuman di lehernya.

“You like it, baby?”, kembali Dendy berbisik di telinga Nita sambil kali ini meremas payudara kanan wanita cantik itu cukup kencang.

“Ooohh…”, Nita melenguh pelan.

Dendy kemudian menjilati telinga Nita lagi dan mengulangi pertanyaannya tadi. “You like it?”.

“I… iya”, bisiknya.

Laki-laki itu lalu tersenyum kecil. Mendengar jawaban Nita tadi paling tidak Dendy tahu kalau permainan cinta terlarang yang kini sedang mereka lakukan didasari oleh rasa suka sama suka. Lalu dengan bersemangat ia pun melanjutkan jilatan dan ciumannya menuju payudara montok Nita. Ciuman itu terus turun menuju permukaan perut rata wanita cantik tersebut, terus terus turun menuju kedua paha mulusnya, dan berakhir di belukar hitam berbulu lembut. Semerbak wangi harum khas vagina seorang wanita dewasa langsung menggoda hidung Dendy, jauh lebih wangi dari saat terakhir ia menciumnya.

Tanpa ragu Dendy membuka kedua paha Nita dan dengan sekejap vagina montok tersebut sudah berada sepenuhnya berada dalam kekuasaan mulut dan lidahnya. Pantat Nita sedikit terangkat ketika Dendy mulai memainkan lidah di permukaan vaginanya. Lidah itu terasa hangat dan liat menari-nari di permukaan lubang kenikmatan tersebut. Nita hanya bisa memejamkan mata dan mencengkram sprei, merasakan rasa geli dan nikmat yang menderanya ketika permainan lidah Dendy beberapa kali menyentuh klitorisnya. Ketika ia sudah tidak lagi merasakan kenikmatan ini dari sang suami, permainan lidah mantan kekasihnya ini terasa begitu luar biasa.

“Sruuuup… sruuuup… sruuup…”, decak suara di selangkangan Nita semakin intens terdengar seiring banyaknya cairan yang membasahi lubang kenikmatannya.

Dendy yang terus menghujani selangkangan Nita dengan jilatan dan sedotan, mau tidak mau membuat vagina wanita cantik itu semakin membanjir. Apalagi ketika Dendy menusuk-nusuk lubang kenikmatan itu dengan lidahnya, Nita pun semakin bergelinjang dibuatnya. Wanita cantik itu nampak memainkan putingnya sendiri yang sudah terasa begitu gatal. Selain itu ia juga beberapa kali terlihat meremas-remas payudaranya sendiri sambil terus menikmati permainan Dendy di selangkangannya.

“Aaakkh…!!!”, tak beberapa lama tubuh Nita terangkat beberapa centimeter dari ranjang dan nampak mengejang. Wanita cantik itu pun mencapai klimaksnya yang pertama. Pelayanan telaten dari mulut dan lidah mantan kekasihnya ini ternyata mampu membawanya menuju puncak permainan awal.

Dendy lalu membiarkan mantan kekasihnya ini menikmati sensasi yang menderanya pasca pencapaian klimaks. Ia merangkak dan lalu mencium bibir Nita dengan lembut. Kemudian laki-laki itu memeluk mesra tubuh Nita sambil membelai rambut panjangnya. Nita begitu terbuai dengan perlakuan mesra mantan kekasihnya ini. Wanita cantik itu sudah lama sekali tidak pernah diperlakukan bak seorang ratu di ranjang seperti sekarang. Maka tak heran ini membuat Nita nampak begitu pasrah di dalam pelukan Dendy.

“Suka dengan hidangan pembukannya?”, bisik Dendy.

Dengan tersipu Nita menganggukkan kepalanya pelan. Wajah cantiknya nampak merona merah menandakan masih ada gelora birahi yang tersimpan di dalam dirinya, walaupun beberapa saat lalu ia baru saja mencapai klimaks.

“Mau hidangan utamanya?”, Dendy menggoda Nita.

Kembali Nita tersipu mendengarnya. Ia tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia hanya membenamkan wajahnya di dada Dendy dan memeluk tubuh laki-laki itu dengan erat.

“Kenapa?”, Dendy terlihat heran dengan sikap Nita.

“Ini salah ndy…”.

“Aku tau ini salah Nit, tapi aku juga merasa kalau semua ini benar-benar indah”, Dendy kemudian mengecup kening Nita sambil terus membelai rambut wanita cantik tersebut.

“Kita harusnya nggak ngelakuin semua ini”.

“Please jangan bilang gitu, jangan sekarang…”.

“Tapi ndy…”.

“Aku tahu hanya bibirmu yang berucap tidak saat ini, tapi tubuhmu tidak bisa berbohong kalau kamu juga menikmati semua ini”.

Nita pun tidak melanjutkan kata-katanya. Ia tahu apa yang dikatakan Dendy itu adalah benar. Bahkan ia bisa merasakan saat ini vaginanya masih berdenyut memintanya untuk melanjutkan permainan. Nita pun hanya bisa tetap memeluk tubuh Dendy dan membenamkan wajahnya di dada laki-laki tersebut. Wanita cantik itu kini berada di dalam dilema. Disaat rumah tangganya berada di dalam masalah, justru kini ia tergoda rayuan mantan kekasihnya. Ketika ia seharusnya berusaha mempertahankan rumah tangganya, justru kini ia berada di atas ranjang bersama laki-laki yang bukan suaminya. Tapi salahkan Nita kalau di tengah kegersangan yang selama bertahun-tahun ini menyelimutinya, ia ingin hanya beberapa jam saja untuk sedikit mengecap kelegaan?

Seakan tahu kalau saat ini dirinya sedang mengalami kegalauan hati, Dendy mengambil inisiatif untuk mengangkat wajah Nita dan mencium kembali bibirnya. Nita yang memang masih merasa gairahnya tergantung hanya bisa menyambut ciuman Dendy, bahkan ikut melumat bibir mantan kekasihnya tersebut. Akhirnya Nita pun mengakhiri dilema di dalam hatinya dengan cara sepenuhnya menyerahkan diri kepada Dendy.

“Aku janji akan memuaskanmu malam ini Nit”.

“Iya, puasin aku ndy, tolong puasin aku”, tanpa dirasakan Nita sebulir air mata mengalir dari pinggir mata indahnya. Sebulir air mata yang mungkin akan menjadi saksi atas dosa yang sedang mereka perbuat.

Tak lama keduanya pun sudah kembali berpagutan panas. Kini tak ada ragu lagi di dalam diri Nita untuk menikmati percumbuan terlarang mereka saat ini. Yang ada di dalam dirinya saat ini hanyalah keinginan untuk menyirami kegersangan hatinya dengan kenikmatan duniawi yang luar biasa dan ia tahu Dendy mampu unuk memberikannya. Untuk itu kemudian Nita melepas pagutan bibirnya dan membalik tubuh mereka sehingga kini ialah yang menindih tubuh Dendy.

“Nit?”, ucap Dendy penuh keheranan.

Nita hanya tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Dendy. “Sekarang giliran aku yang melayanimu”.

Nita pun membuka kaitan sabuk Dendy berikut resleting celana panjangnya. Tak lama celana panjang itu pun melorot dan terlepas. Lalu jari-jari lentik Nita dengan cekatan mengusap-usap tonjolan besar di selangkangan Dendy. Kemudian ia mencium dan menjilat tonjolan tersebut. Nita kembali memandang wajah Dendy. Kini ekspresi laki-laki itu sudah berubah menjadi senyuman. Nita pun membalas pula dengan sebuah senyuman. Lalu kedua tangan Nita bergerak membuka celana dalam ketat penutup terakhir tubuh mantan kekasihnya tersebut. Nita cukup tersentak karena tidak menyangka bisa melihat lagi batang kontol yang pernah memiliki sejarah mengaduk-aduk vaginanya ini. Batang kontol itu masih tetap sama, besar, kokoh dan berurat. Nita pun merasakan denyut di selangkangannya terasa semakin kencang.

Tak lama kemudian Dendy pun harus merem melek ketika Nita dengan telaten mencium, menjilati dan mengulum batang kontol dan zakarnya. Baik Dendy maupun Nita terlihat menikmati benar aksi-aksinya tersebut. Bahkan bagi Nita sendiri sejak beberapa bulan terakhir ia tidak pernah memberikan suaminya sendiri pelayanan sedasyat ini.

“Oooohh… Nit!”, Dendy melenguh sambil tetap terpejam.

Laki-laki itu lalu mengangkat tubuhnya sehingga posisinya menjadi terduduk. Dengan lembut ia kemudian membelai rambut Nita yang kini sedang “bekerja” di selangkangannya. Ekspresi wajah Dendy benar-benar menggambarkan bagaimana rasa nikmat yang kini menderanya.

“Oooh… aahh… trus Nit… trus…”.

Dendy terus merancau. Sambil menikmati layanan Nita, ia juga meremas-remas bongkahan pantat wanita cantik tersebut bergantian dengan payudaranya yang menggantung sempurna. Sambil menjilati dan mengulum kontol mantan kekasihya, Nita juga meraba-raba sendiri lubang vaginanya agar tingkah kebasahannya tetap terjaga. Terlihat sekali kalau wanita cantik itu ingin segera disetubuhi begitu batang kontol kokoh di dalam mulutnya siap tempur.

“Cukup Nit!”, Dendy menghentikan aksi Nita kemudian mengangkat tubuh wanita cantik itu. Diciumnya kembali bibir Nita dengan lembut. “Sekarang aku akan memberikan kamu kenikmatan seperti yang tadi aku janjikan”.

Laki-laki itu pun membaringkan kembali tubuh sintal itu di atas ranjang. Ia kemudian membuka lebar kedua Nita dan mulai menggosok-gosok kepala kontolnya di permukaan vagina wanita cantik tersebut. Kini giliran Nita yang memejamkan matanya dan memanti saat-saat dimana batang kontol itu menghujam ke dalam dirinya. Berbagai perasaan bercampur aduk di dalam dirinya kini. Antara dosa dan kenikmatan. Perasaan yang sama pernah dirasakan Nita, ketika detik-detik menjelang Dendy hendak memasukkan batang kontolnya guna merobek selaput daranya.

“Aaaakkh…!”, Nita berteriak kencang ketika akhirnya batang kontol Dendy menerobos ke dalam lubang kenikmatannya.

Bahkan Nita sampai harus kembali meremas kencang sprei ketika Dendy mulai menggenjot vaginanya. Dinding vagina Nita terasa terbuka paksa ketika bergesekan dengan permukaan kontol Dendy. Apalagi ketika laki-laki itu semakin mengencangkan hujaman kontolnya. Semakin kencang hujaman kontol Dendy maka semakin nikmat yang dirasakan Nita.

“Aaaah… Nit memekmu masing sempit aja kayak terakhir kita bercinta”.

Dendy kemudian mengangkat kedua kaki Nita, sehingga akses masuk batang kontolnya ke dalam vagina wanita cantik tersebut bisa semakin terbuka. Nita yang memang mengharapkan semua ini terjadi juga merasakan hal yang sama. Disetubuhi Dendy tidak terasa seperti ketika ia disetubuhi oleh suaminya. kontol Dendy terasa begitu sesak di vaginanya. Nita pun seolah-olah merasakan kalau kenikmatan yang ia peroleh saat ini, benar-benar setimpal dengan dosa akan akan diterimanya nanti.

“Kamu suka Nit?”.

“Iya, ndy trus… puaskan aku, puaskan aku”.

“Aahhh… Ooooh… aaahhh….”.

Dendy terus mengocok vagina Nita sambil keduanya saling melumat bibir masing-masing dengan gaya missionary. Desahan demi desahan bergiliran terdengar dari kedua insan yang sedang dilanda birahi ini ketika bibir mereka berpagutan. Keduanya sama sekali tidak terlihat segan memperlihatkan kepuasan yang sama-sama mereka peroleh. Baik Dendy maupun Nita seperti benar-benar merasakan sensasi luar biasa dari persetubuhan yang sedang mereka lakukan. Keduanya seperti tidak peduli akan segalanya lagi selain keinginan unuk bisa sama-sama merengkuh kenikmatan duniawi bersama-sama.

“ndy… aku mau diatas”, desah Nita ketika Dendy mencium bibirnya.

Laki-laki itu pun menurut dan mencabut batang kontolnya. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Nita kemudian berdiri mengangkang diatas tubuh Dendy dan beberapa saat kemudian wanita cantik itu sudah nampak bergoyang diatas tubuh mantan kekasihnya tersebut.

“Ooohhh… aaahhh… aaah….”, Dendy merasakan goyangan pinggul Nita terasa menjepit batang kontolnya dengan kencang. Ia merasakan kalau mantan kekasihnya ini kini terlihat semakin ahli di ranjang. Tidak seperti Nita yang dikenalnya dulu ketika mereka berdua sama-sama lugu dan polos dalam hal bercinta.

Nita terus bergoyang sambil meletakkan kedua tangannya di dada Dendy sebagai penyangga. Sedangkan kedua tangan Dendy terlihat meremas-remas payudara Nita yang sudah terlihat semakin menegang. Nita terlihat begitu liar dan binal ketika berada di atas tubuh Dendy. Wanita cantik itu terlihat begitu menggebu-gebu ingin menuntaskan kehausan birahinya. Bahkan ketika kepalanya menengadah ia tidak malu-malu untuk berteriak sekencang-kencangnya guna meluapkan gairahnya yang telah lama tertahan. Toh laki-laki yang kini sedang bersetubuh dengannya kini sudah pernah menikmati tubuhnya, jadi ia sama sekali merasa tidak perlu menjaga image di depannya. Selain itu laki-laki ini juga tidak dalam ikatan perkawinan, sehingga ia juga tidak perlu merasa tidak enak karena telah bercinta dengan milik wanita lain.

“Aaahh… oooh…. aaahh….”.

“Ooohh… aaahh… ooohh…”.

Desahan, lenguhan dan teriakan penuh nafsu membahana di seluruh ruangan kamar hotel tersebut. Kondisi ranjang juga sudah nampak amburadul dan terus bergoyang kencang. Dinginnya AC juga tidak bisa lagi mencegah derasnya peluh yang kini membasahi tubuh Nita dan Dendy. Aura panas dan gelora birahi keduanya seakan-akan begitu menguasai seluruh ruangan kamar tersebut.

Menjelang pencapaian klimaks yang dirasakan oleh kedua insan tersebut, Dendy membalikkan kembali posisi mereka berdua. Kini Nita kembali berbaring dan Dendy kembali memegang kendali permainan. Dendy kembali membuka lebar kedua kaki Nita dan langsung menghujamkan batang kontolnya.

“Aaaakkh…”, Nita berteriak kencang ketika batang kontol Dendy tiba-tiba kembali menghujam deras ke dalam vaginanya.

Dendy lalu mendorong tubuhnya sehingga dadanya menekan kedua kaki Nita. Sedangkan kedua tangan Dendy membentangkan kedua tangan Nita di atas kepalanya. Nita sendiri nampak beberapa kali mengangkat pantatnya sehingga memudah Dendy untuk melakukan penetrasi. Kembali dengan cepat Dendy melakukan genjotan. Tubuh mereka pun kembali bergunjang hebat. Terlihat sekali kalau keduanya akan segera mencapai puncak permainan.

“ndy… terus ndy yang kenceng…”.

“Iya Nit…”.

“Oooohh ndy…”.

Dendy semakin meningkatkan intensitas genjotannya. Tubuh mereka pun semakin hebat berguncang.

“Nit… memekmu… aaaahhh…”.

“Oooh… dikit lagi ndy…”.

“Aaaahh…”, Dendy terus menggenjot dan menggenjot.

“ndyee…. Aaaaakhhh…!!!”, Nita mencapai klimaksnya yang kedua. Jauh lebih dasyat daripada yang dirasakannya di awal permainan.

Tak lama berselang giliran Dendy pun juga melenguh panjang, “Oooohhh…!!!”.

Sperma pun dengan kencang menyembur masuk ke dalam lubang kenikmatan Nita. Semprotan demi semprotan cairan kental itu kini memenuhi rahim wanita cantik itu. Sama sekali Nita tidak mencegahnya, seolah-olah ia memang menginginkan sari-sari percintaan mereka tersebut berada disana. Keduanya pun ambruk terlentang di ranjang dengan nafas memburu. Keduanya seakan menikmati betul rasa nikmat dari percintaan yang mereka lakukan tadi.

Dendy yang terlebih dahulu tersadar dari belenggu kenikmatan puncaknya, kemudian memeluk mesra tubuh Nita. Ia lalu mencium lembut bibir wanita cantik tersebut, seolah-olah hendak mengucapkan terima kasih. Nita pun membalas ciuman tersebut dengan tidak kalah lembut. Mereka kemudian hanya saling memeluk dan membisu tanpa kata. Usapan dan belaian keduanya di tubuh pasangan masing-masing seakan-akan sudah membuat mereka saling mengerti satu sama lain.

“Kamu menyesal telah melakukan ini semua, Nit?”, ucap Dendy memecah kebuntuan.

“Aku tidak tahu, ndy”, jawab Nita singkat.

“Aku mencintaimu, Nit”.

“Kamu tidak boleh lagi mencintai aku, ndy!”.

“Aku tahu Nit, aku tahu… tapi aku hanya ingin kamu tahu kalau jauh di dalam hatiku, aku masih mencintaimu”.

Dendy mencium kening Nita. Keduanya kembali membisu. Hati Nita kini sedang menangis, karena menyesali kenapa ia harus mendapatkan kasih sayang dan kepuasan batin justru dari Dendy, mantan kekasihnya bukan dari suaminya. Sedangkan di dalam hati Dendy juga tersimpan penyesalan kenapa cinta mereka tidak ditakdirkan untuk menyatu di kehidupan ini. Keduanya seakan telah sama-sama memasrahkan diri di dalam ketidakberdayaan ini.

Tak lama keduanya pun terlelap. Nita terlihat begitu tenang seakan tidak peduli dengan apa yang akan terjadi esok. Yang jelas saat ini Nita menikmati betul berada dalam pelukan mantan kekasihnya ini. Di dalam pelukan laki-laki ini Nita merasakan kehangatan yang luar biasa, walaupun ia tahu benar kalau kehangatan tersebut adalah kehangatan semu. Begitulah Cerita Dewasa Bercinta dengan mantan kekasih, Kehangatan dari sebuah hubungan cinta yang terlarang.

Admin
Master Sundul
Master Sundul

Jumlah posting : 521
Exp : 999821
JempoL : 19
Join date : 02.03.11
Age : 26
Lokasi : Bekasi

Lihat profil user http://sundul.coolbb.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik